Pagi ini, langit kota Mamuju nampak tenang, seakan menggambarkan kelegaannya dari hiruk- pikuk semalam oleh jutaan kembang api yang membakar. Padahal sebelumnya saya sempat beranggapan bahwah mugkin akhir tahun ini di Mamuju tidak akan ada pesta kembang api, karena adanya edaran dari pemerintah pemprov Sulbar yang menghimbau, dan memberikan panduan kepada semua Bupati dan secara umum buat masyarakat Sulawesi Barat untuk mengakhiri tahun 2025 tanpa acara kembang api. Tapi ternyata edaran ini tidak mempan alias tidak dihiraukan oleh Masyarakat Mamuju.
Berikut ini link surat edaran pemerintah, silahkan pembaca cermati, betapa niat baik pemerintah sudah ada, namun diabaikan. Kalau yang punya tangan saja sudah tidak mempan mengubah kemungkaran, maka mereka ingin nasihat dengan cara apa lagi ?
https://www.kabardesa.co.id/2025/12/surat-edaran-gubernur-sulbar-tahun-baru.html
Sahabat….
Awal tahun 2025 yang lalu saya pernah melakukan wawancara kecil - kecilan pada 5 orang anak usia SD. Kaitannya apa yang mereka lakukan pada malam tahun baru, akhir 2024 kala itu. Dari pengakuannya semua mengaku begadang hingga larut malam, terlibat melakukan aktifitas yang bernuansa hiburan bersama keluarganya. Penuturan ini mugkin mewakili jutaan anak seusianya, dan menyadarkan kita bahwa demikianlah asumsi dan penyikapan mayoritas masyarakat dalam menyikapi malam pergantian tahun baru. Yang ada dalam benak mereka, malam tahun baru harus ada acara makan - makan, bakar ini dan itu, dan puncaknya, tepatnya pada pukul 12 malam, yang lebih akrab mereka istilahkan puku Nol-nol, maka langit harus memancarakan pesonanya.
Berapa Juta Uang Yang dihamburkan Malam Itu ?
Data statistik menunjukkan bahwa jumlah penduduk Mamuju pada tahun 2024 adalah 286.700 jiwa. Mugkin ada yang bertanya untuk apa data ini saya tunjukkan.? Bukankah tidak semua mengeluarkan uang pada malam tahun baru. ? Ayo terus ikuti data berikut ini sobat….
Benar, bahwa tidak semua masyarakat menghamburkan uang malam itu. karena tentu ada yang masih balita, ada pula usia tua yang tentu hanya memilih di Rumah tanpa keluar. Apalagi untuk acara hura-hura malam itu. Maka anggaplah pada usia 15 - 49 tahun saja. Yang jumlahnya 161.000 jiwa. ( Data statistik ) Jika dari mereka mengambil isi dompetnya masing - masing 20.000 rupiah saja, dikalikan dengan jumlah 161.000 jiwa penduduk Mamuju yang memumgkinkan terlibat pada acara malam tahun baru semalam adalah 3.220.000.000 ( Tiga milyar dua ratus dua puluh juta rupiah ) Silahkan dihitung sendiri sobat.
Bagaimna lagi jika yang terlibat ada sebelum berusia 15 tahun, ? dan bagaimana lagi jika uang yang dibelanjakan bukan cuma 20.000 rupiah, tapi lebih dari itu, ? maka tentu jumlah uang yang terbelanjkan malam itu jauh lebih besar lagi. Dan ini belum termasuk harga 1 ekor ayam, ikan yang dibakar, jagung bakar, serta belanjaan acara hiburan lainya malam itu.
Masih Ingat derita Saudara kita Di Sumatera ?
Semalam saya masih sempat melihat postingan aktifitas relawan di sana, sepintas saya teringat lagi tumpukan kayu yang melilit bangunan, lumpur tebal menutupi, kelaparan, penyakit mewabah di mana - mana, bahkan penuturan sebagian relawan mengatakan bahwa yang kita saksikan di Media sosial itu, belum seberapa dibandingkan dengan dahsyatnya kejadian yang ada di lokasi. banyak yang belum terberitakan, ada duka yang mendalam, namun belum terugkap. Hmmmm
Sahabat….
Andai tiga milyar tadi malam itu kita donasikan ke Aceh, ? Andai harga kembang api yang hendak dibakar itu dikumpulkan dari 6 kabupaten se Sulawesi Barat, sebagai wujud kepedulian kita pada derita mereka ?
Silahkan dijawab masing - masing, dan merenung di awal tahun 2026 ini, tentang apa dan kita mau bagaimana ?
Semoga lindungan, keberkahan, dan rahmat Allah Azza Wa Jallah senantiasa tercurah buat pembaca. Semoga goresan ini bisa menjadi bahan renungan, untuk kita lebih berbenah pada tahun 2026 ini.
Barakallahu Fikum